Kamis, 27 Januari 2011

Ucapan Selamat Natal di Sebutir Salju

Ucapan selamat Natal di atas kertas atau melalui pesan di telepon seluler mungkin sudah sangat biasa. Tapi bagaimana jika ucapan tersebut ditulis di atas sebutir salju yang ukurannya hanya selebar sehelai rambut?

Profesor Philip Moriarty dari University of Nottingham menggagas pembuatannya. Ia mengumpulkan butiran salju ke dalam

cangkir. Butiran dijaga agar tidak meleleh dengan nitrogen cair dan diamati dengan mikroskop elektron.

Dengan mikroskop itu, ilmuwan melihat struktur heksagonal butiran salju dan menentukan sisi yang tepat untuk menulis.

"Yang kita cari adalah wajah kristal butiran salju. Kami menemukan detail yang sangat indah," kata Moriarty. Setelah menemukan, Moriarty dan rekannya pun mulai mengukir kata-kata selamat Natal di atas butiran salju itu. "Tulisan ditulis menggunakan teknik sinar ion yang menembak permukaan es, menghamburkan materi yang ada," kata Moriarty.

Tulisan selamat natal di sebutir salju ini dibuat sebagai bagian dari proyek pembuatan film Sixty Symbol. Brady Haran, pembuat film, mengatakan, "Ini tak cuma senang-senang, tetapi juga menunjukkan teknologi yang mampu membuatnya."

Teknologi yang mampu mendukung proyek itu adalah nanoteknologi. Melaluinya, kita bisa menganalisis karakter materi tertentu dan merekayasanya hingga terbentuk materi baru yang dengan sifat berbeda.Moriarty yang merupakan ahli nanopartikel mengatakan, "Kemampuan untuk melihat dan mengubah materi kecil itu telah merevolusi banyak hal dalam hidup kita, mulai dari komunikasi, pengobatan, hingga makanan."(kompas)

3 Cara Mengetahui Keaslian Crop Circle

Kemunculan Crop Circle (CC) di Sleman menggemparkan warga sekitar. Menurut Beta-UFO, lembaga yang memperhatikan
masalah UFO di Indonesia, ada berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui keaslian crop circle.

Pertama,
biasanya akan muncul medan elektromagnetik statis di sekitar lokasi kemunculan CC. Efek ini akan terjadi ketika menyalakan ponsel di daerah itu, maka sinyal akan hilang.

Namun, ketika bergerak menjauh maka sinyal akan kembali lagi. Selain itu, elektromagnetik juga mempengaruhi hewan, kucing dan anjing misalnya. Mereka biasanya akan merasa takut saat berada di lokasi semacam ini.

Kedua,
kadar radiasi pun bisa diukur. Pada banyak kasus CC di Inggris biasanya kadar radiasi di lokasi CC akan tinggi dibanding lainnya.

Ketiga,
bisa dilihat dari struktur runtuhan tanaman, biasanya pada CC asli hanya berupa runtuhan bengkok (bending) seperti tiba-tiba dipanaskan kemudian dibekukan lagi. Menurut Direktur Beta-UFO, Bayu Amus, terkadang pada tanaman akan terjadi mutasi genetik namun hal itu sulit dilihat.

Mudahnya, orang bisa melakukan uji coba di lokasi aslinya. “Mungkin tidak membuat pola sama dengan hanya menginjak-injak saja,” paparnya.

Menurutnya, jika CC merupakan buatan manusia, maka rebahan tanaman yang diinjak manusia biasanya masuk ke dalam lumpu sawahnya. Seperti diketahui, pada hari ini pula Beta-UFO melakukan penelitian disana dan hasilnya akan diketahui esok hari. (inilah).

Tempat Terdingin di Semesta.

Jelas bukan pantai Kuta di Bali. Bahkan, Kutub Utara pun bukanlah tempat terdingin di semesta. Lalu di mana titik terdingin alam semesta?

Tempat Terdingin di semesta berada dalam Nebula Bumerang. Nebula Bumerang berada dalam konstelasi Centaurus, lima ribu tahun cahaya dari Bumi. Planet Nebula terbentuk di sekitar bintang pusat terang ketika ia mementalkan gas pada tahap akhir hidupnya.

Nebula Bumerang merupakan salah satu tempat khas di alam semesta. Pada 1995, menggunakan Submillimetre Telescope 15 meter ESO Swedia di Chile, astronom Sahai dan Nyman mengungkap Nebula Bumerang merupakan tempat terdingin yang ditemukan di alam semesta sejauh ini.

Nebula Bumerang bersuhu minus 272 derajat Celcius, satu derajat lebih hangat dari nol absolut atau batas terendah semua suhu. Bahkan minus 270 derajat C melatari cahaya Big Bang yang lebih hangat dari nebula ini.

Nebula merupakan obyek sejauh ini yang memiliki suhu lebih rendah dibanding radiasi latar belakang. Bentuk kupu-kupu Bumerang tampak menciptakan angin ganas dengan kecepatan 498.896 kilometer per jam.

Angin ini meniup gas super dingin dari pusat bintang sekarat. Menurut astronom, bintang itu kehilangan seperseribu massa material matahari per tahun selama 1.500 tahun.

Hal ini 10-100 kali lebih banyak dari obyek sejenis. Ekspansi cepat nebula ini membuatnya menjadi daerah yang dikenal sebagai daerah terdingin di alam semesta. (inilah).

Bahtera Nuh Versi Modern.

Bahtera Nuh baru dikembangkan oleh para arsitek asal Rusia. Kali ini, bahteranya berwujud hotel yang dinamai "Ark Hotel".

Bahtera yang berwujud hotel ini, dalam konsep yang ditunjukkan Senin (10/1/2011), dibangun untuk mengatasi bencana banjir akibat kenaikan pemukaan air laut.

Ketika bencana banjir terjadi, hotel ini bisa melayang di air laut sehingga mampu menyelamatkan manusia yang ada di dalamnya. Dalam kondisi tersebut, hotel yang didesain berbentuk cangkang ini juga masih bisa menyediakan energi bagi penghuninya sebab bagian dalamnya ditanami pohon.

Selain mengatasi banjir, hotel ini juga dikatakan tahan gempa. Para arsitek yang membangunnya mengatakan, rangka dan desain hotel mampu menyebarkan berat secara merata sehingga bisa mengamankan penduduk dari bencana gempa bumi yang mungkin terjadi.

Hotel ini juga memiliki panel surya dan penampung air hujan yang akan memberikan energi dan air secara alami. Bagian dalam hotel dilengkapi dengan vegetasi tumbuhan yang selain memberikan kualitas udara yang baik juga bisa menjadi sumber bahan pangan.

Eksterior hotel terbuat dari bahan yang transparan untuk memastikan tercukupinya cahaya. Kontrol intensitas cahaya dilakukan dengan adanya filter di bagian dalam ruangan. Sementara, sebuah lapisan khusus juga digunakan untuk memastikan kualitas cahaya yang masuk ruangan.

Hotel ini dibangun oleh firma arsitektur Remistudio Rusia dan International Union of Architect. Alexander Remizow dari Remistudio mengatakan, "Hotel ini dibangun untuk menjawab tantangan yang ada saat ini. Dibangun untuk mendukung sistem kehidupan yang independen."

Tantangan yang dimaksud diantaranya adalah kebutuhan pengamanan dan perlindungan dari efek perubahan iklim serta kondisi lingkungan yang ekstrim. Selain itu juga akan menjawab kebutuhan perlindungan dari aktivitas manusia yang merusak.

Untuk membangun sistem kehidupan yang independen, Remistudio mengatakan, "Semua tanaman telah dipilih berdasarkan kesesuaian, efisiensi dalam mengatur pencahayaan dan kemampuan dalam memproduksi oksigen. Atap yang transparan mebuat tanaman bisa mendapatkan cahaya yang cukup."(kompas)