Selasa, 08 Mei 2012

Keuntungan Pria Posesif...




Memiliki pria posesif dalam hubungan bisa menjadi berkah yang tersembunyi atau sebuah mimpi buruk. Memiliki pria posesif terkadang membuat hidup seorang wanita merasa terbatasi. Karena semuanya harus didasari dengan apa yang ia suka dan tidak disuka.

Seperti yang dilansir dalam Boldsky.com, tidak semua wanita membenci pria posesif. Sebagian menyukainya karena mereka akan selalu memegang tangan wanitanya saat berjalan dan ia juga akan memperhatikan pasangannya setiap waktu. Mau tau keuntungan lain memiliki pria posesif? Berikut ini adalah 5 keuntungan memiliki pria posesif:

1. Perhatian
Tak ada yang menandingi perhatian dari seorang pria posesif yang Anda miliki. Mereka akan selalu bertanya keberadaan pasangannya dan apa yang sedang mereka alami. Sifat posesif berasal dari cinta yang menunjukan rasa kepedulian.

2. Pencemburu
Hal yang sering membuat wanita bangga terhadap pria posesif adalah karena sifat mereka yang mudah cemburuan. Berdansa dengan sahabatnya dapat membuat mereka terbakar api cemburu. Rasa ini mereka miliki karena dirinya tidak ingin kehilangan pasangan dan menjaga hubungan dari orang ke tiga.

3. Konsisten terhadap perasaan
Kebanyakan wanita mengeluh karena rasa perhatian pasangannya berubah dan berbeda saat awal mereka menjalin hubungan. Tetapi jika Anda memiliki pria posesif, rasa perhatian mereka tidak akan berubah sedikit pun. Sekalipun pasangan mereka telah berubah menjadi gemuk. Bahkan mereka akan terus berusaha untuk menjaga pasangan hidupnya.

4. Figur ayah
Tanpa disadari hampir setiap wanita mencari figur ayah dalam diri pasangannya. Figur seperti ini banyak dimiliki oleg pria posesif, mereka tau bagaimana cara membimbing dan melindungi.

5. Sisi masokis
Mungkin diri Anda banyak melihat wanita cerdas dan tersiksa dalam sebuah hubungan. Hal ini karena mereka memiliki sifat masokis dalam dirinya. Mereka menikmati memiliki pasangan yang posesif, sekalipun mereka akan membuatnya tertekan. Untuk hal ini mungkin sulit dijelaskan, demi mendapatkan kenyamanan mereka rela diatur oleh pasangannya.
Jadi, masih berminat memiliki pasangan yang posesif?(vivanews)

Rabu, 21 Desember 2011

Mengapa Perempuan Tambah Gemuk Setelah Menikah?

Beberapa pria dan wanita merasa badannya lebih berisi setelah menikah. Perasaan lebih gemuk ini bisa jadi bukan sekedar mitos. Studi baru yang dipresentasikan di American Sociological Association, menyatakan perkawinan memang bisa mengarah ke penambahan berat badan yang cukup signifikan.

Studi ini mengatakan, setelah menikah berat badan wanita bisa meningkat hingga 33 persen. Angka itu pun masih masuk kategori peningkatan berat badan dalam skala kecil. Peningkatan berat badan pada skala yang lebih besar, bahkan mencapai 48 persen.

Namun, tunggu dulu, jangan buru-buru mengkambinghitamkan pernikahan jika anda tiba-tiba menjadi gemuk. Studi yang dilakukan pada tahun 2006 menemukan bahwa ada kecenderungan perubahan pola makan pada wanita setelah menikah.

Orang yang telah menikah cenderung sering makan bersama. Hal ini yang diyakini menjadi salah satu penyebab meningkatnya berat badan seseorang setelah menikah.

Jika sang suami memiliki porsi makan lebih banyak, hal ini dapat mempengaruhi nafsu makan sang istri. Dengan kata lain, keinginan untuk makan banyak terkadang bukan disebabkan oleh nafsu makan sendiri, namun berasal dari nafsu makan yang tertular dari pasangan mereka.

Pasangan yang baru menikah juga cenderung untuk sering bereksperimen membuat masakan. Akhir pekan yang dihabiskan bersama, sering identik dengan membuat menu baru pada makanan mereka.

Sebagai bentuk penghargaan, sang suami akan menghabisakan makanan sebagai penghargaan bagi sang istri. Sementara itu, sang istri juga akan terpengaruh dengan nafsu makan suami.

Namun, lelaki cenderung menghabiskan kalori yang lebih banyak dibandingkan perempuan, bahkan ketika sedang beristirahat. Sedangkan pembakaran kalori pada tubuh wanita lebih lambat.
Oleh karena itu jangan heran perempuan cenderung lebih mudah bertambah gemuk setelah menikah.(yahoo)

Mengapa Manusia Bisa Berdiri?

Misteri mengapa manusia awal berlari dengan dua kaki sebelumnya belum terpecahkan. Namun kini,para ilmuwan berhasil mengungkap apa penyebabnya.

Sebelumnya, para ilmuwan menduga, manusia pertama ‘berdiri’ untuk menjaganya tetap dingin. Namun model komputer baru menunjukkan sebaliknya, berdiri membuat manusia lebih panas.

Nampaknya, manusia awal berdiri kemudian kehilangan bulunya karena mereka menyadari betapa panas jika berlari dengan dua kaki namun masih memiliki bulu. Menurut Graeme Ruzton dari University of Glasgow, manusia awal hanya bisa berlari saat dini hari dan malam.

Saat bulu yang ada pada tubuh manusia awal hilang, mereka menjadi lebih aktif di siang hari.
“Model kami menunjukkan, hanya saat bulu hilang dan kemampuan berkeringat mencapai tingkat manusia modern, hominid ini bisa menjadi aktif di siang yang panas dan lingkungan terbuka,” katanya seperti dikutip DM.
Namun hasil riset ini masih belum menjawab dengan sempurna mengapa manusia berdiri. Hal ini diduga kuat untuk melihat ancaman yang mendekat atau untuk memetik buah di pohon.(inilah)

Dinosaurus Pernah Tinggal di Antartika

Dinosaurus ternyata dulu pernah tinggal di benua antartika, sebagaimana ilmuwan baru menemukan bukti terbaru keberadaan hewan di benua es tersebut.

Seperti yang dikutip dari Telegraph, para ilmuwan di antartika telah menemukan sebuah fosil ekor panjang milik Titanosaurus, salah satu anggota dari dinosaurus bertubuh panjang.

Titanosaurus adalah jenis sauropoda; yakni dinosaurus pemakan tumbuhan berleher serta berekor panjang. Spesies ini sudah banyak ditemukan di benua lain, namun ini adalah kali pertama ditemukan di antartika.

Fosil tersebut ditemukan oleh pulau James Ross Island, salah satu pulau di benua antartika. Para ilmuwan mengidentifikasi fosil tersebut milik Lithostrotian Titanosaurus dari jaman Cretaceous akhir, sekira 70 juta tahun yang lalu; era ketika benua tersebut masih kaya akan tanaman.

"Penemuan kami ini mengindikasikan bahwa Titanosaurus perkembangannya telah sampai ke seluruh dunia, pada jaman Cretaceous akhir," ujar Dr. Ignacio Alejandro Cerda, dari institut Conicet, Argentina, yang ditulis dalam jurnal Jerman, Naturwissenschaften.(inilah)